Awal 2026 IHSG Drop, Dana Pensiun Karyawan Anda Aman Nggak?

Setiap kali IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) turun drastis—entah karena sentimen global atau kondisi ekonomi domestik—yang paling gelisah bukan cuma investor retail. CFO dan HR perusahaan yang punya program dana pensiun juga ikut deg-degan.

Kenapa? Karena pergerakan IHSG punya dampak langsung ke dua hal krusial: return investasi dana pensiun dan asumsi aktuaria untuk menghitung kewajiban imbalan kerja. Mari kita bahas satu-satu.

IHSG dan Return Dana Pensiun

Sebagian besar dana pensiun di Indonesia—baik Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK) maupun Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK)—mengalokasikan sebagian asetnya ke saham. Komposisi tipikal: 30-50% saham, sisanya obligasi dan deposito.

Saat indeks naik, return dana pensiun ikut bagus. Target return 8-10% per tahun mudah tercapai, bahkan bisa lebih. Tapi begitu IHSG koreksi 10-20% dalam beberapa bulan? Return dana pensiun langsung jeblok, bisa jadi negatif.

Masalahnya: kewajiban perusahaan ke karyawan tidak berkurang hanya karena indeks harga turun. Janji memberikan benefit pensiun sekian rupiah per bulan tetap harus dipenuhi—regardless of market condition.

Ini menciptakan gap: aset dana pensiun turun, tapi liability tetap. Akibatnya? Funding ratio jadi buruk. Perusahaan harus top-up dana lebih banyak untuk menutup kekurangan.

Dampak ke Discount Rate

Selain return investasi, IHSG juga berpengaruh ke discount rate yang dipakai dalam valuasi aktuaria.

Discount rate adalah tingkat bunga yang dipakai untuk menghitung present value dari kewajiban masa depan. Semakin tinggi discount rate, semakin kecil present value-nya (karena future value didiskon lebih besar). Sebaliknya, discount rate turun = liability naik.

Discount rate biasanya mengacu pada yield obligasi pemerintah jangka panjang. Tapi ada korelasi antara pergerakan IHSG dengan yield obligasi. Saat pasar saham bearish, investor lari ke obligasi (flight to quality), membuat yield obligasi turun—dan ini berarti discount rate juga turun.

Akibatnya? Liability imbalan kerja di neraca perusahaan membengkak. Ini bisa mengejutkan CFO yang tidak siap: “Kok tiba-tiba kewajiban kita naik puluhan miliar?”

Volatilitas IHSG = Unpredictable Funding

Perusahaan yang punya program defined benefit sangat rentan terhadap volatilitas pasar. Mereka harus contribute dana tiap tahun, tapi berapa yang harus disisihkan sangat tergantung pada dua faktor yang berubah-ubah:

  1. Performa investasi dana pensiun (yang dipengaruhi IHSG)
  2. Discount rate untuk liabilitas valuasi

Saat market bagus, funding requirement rendah—bahkan bisa surplus. Tapi begitu market jelek, tiba-tiba perusahaan harus inject dana besar untuk menutup defisit. Ini mengganggu cash flow planning.

Contoh nyata: saat pandemi 2020, IHSG turun hampir 40% dari peak. Banyak perusahaan kaget karena funding ratio dana pensiun mereka drop dari 120% jadi 80-90%. Artinya, mereka harus inject dana ekstra yang tidak dianggarkan.

Strategi Mitigasi Risiko

Lalu apa yang bisa dilakukan perusahaan?

Diversifikasi investasi: Jangan terlalu heavy di saham. Mix antara equity, fixed income, dan alternatif investment bisa stabilkan return. Saat IHSG turun, obligasi atau money market bisa jadi cushion.

Asset-liability matching: Sesuaikan strategi investasi dengan karakteristik liability. Kalau mayoritas karyawan masih muda (pensiun masih 20+ tahun), bisa lebih agresif di saham. Kalau sudah banyak yang mendekati pensiun, shift ke instrumen lebih stabil.

Dynamic funding strategy: Saat market bagus dan funding ratio tinggi, ini waktu yang tepat contribute lebih banyak. Jangan tunggu sampai market jelek dan terpaksa inject di timing yang buruk.

Regular actuarial review: Lakukan valuasi minimal setahun sekali untuk monitor funding status. Jangan sampai kaget pas audit tahunan ternyata ada defisit besar.

Consider switching scheme: Kalau volatilitas ini terlalu risky, pertimbangkan switch dari defined benefit ke defined contribution. Risk pindah ke karyawan, tapi perusahaan jadi lebih predictable budgetnya.

Persiapan untuk Market Downturn

Market akan selalu ada cycle. Bullish dan bearish bergantian. Perusahaan yang smart tidak panic saat IHSG turun, tapi sudah prepare dari jauh-jauh hari:

  • Punya buffer fund yang cukup untuk top-up saat market jelek
  • Stress testing: simulasi bagaimana jika IHSG turun 20%, 30%, atau 40%—berapa impact ke funding?
  • Komunikasi transparan dengan karyawan tentang kondisi dana pensiun, terutama untuk DC scheme

Konsultan aktuaria bisa membantu melakukan stress testing dan asset-liability modeling. Mereka bisa simulate berbagai skenario: bagaimana jika IHSG flat 5 tahun? Bagaimana jika yield obligasi turun 2%? Berapa yang harus disisihkan tiap tahun untuk maintain funding ratio minimal 100%?

We Conclude That..

IHSG bukan hanya concern investor atau trader. Buat perusahaan yang punya program dana pensiun atau imbalan kerja, pergerakan pasar saham punya dampak nyata ke laporan keuangan dan cash flow.

Monitoring IHSG—dan lebih luas lagi, kondisi pasar modal—should be part of regular risk management. Semakin volatile market, semakin penting untuk punya strategi funding yang robust dan defensive.

Karena pada akhirnya, janji ke karyawan harus tetap dipenuhi—apapun kondisi IHSG.

Share your love

Chat with Us!