Setiap 26 Juli dunia menoleh ke hutan bakau. Bagi kami, tanggal itu bukan titik mulai — hanya penanda bahwa arah yang kami tempuh selama ini berjalan searah.
Hari Mangrove Sedunia ditetapkan UNESCO pada 2015 sebagai International Day for the Conservation of the Mangrove Ecosystem. Peringatan ini lahir dari kesadaran bahwa mangrove adalah ekosistem paling produktif sekaligus paling cepat hilang di dunia: penahan abrasi, penyerap karbon, dan rumah bagi biota laut yang menopang penghidupan masyarakat pesisir.
Kondisi Mangrove yang Menyusut
Empat dekade terakhir memberi gambaran yang tidak nyaman. Analisis Global Mangrove Watch mencatat bahwa sepanjang 1985–2025, luas kawasan mangrove global justru bertambah bersih sekitar 47,7 ribu hektare — dengan pertambahan terbesar di Australia, India, Filipina, Pakistan, dan Senegal.
Indonesia bergerak ke arah sebaliknya. Pada periode yang sama, Indonesia mencatat penyusutan bersih sekitar 2.043 km² atau 204,3 ribu hektare dibandingkan kondisi 1985 — angka penyusutan terbesar di dunia, jauh di atas Myanmar (145,7 ribu hektare) dan Malaysia (38,9 ribu hektare).
Kabar baiknya, dalam beberapa tahun terakhir laju pertambahan luas mangrove di Indonesia sudah melampaui laju kehilangannya — meski belum cukup menutup akumulasi kerugian pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an.
(Sumber: Katadata)
Padahal nilai ekosistem ini besar. Wetlands International mencatat mangrove menyerap karbon hingga empat kali lebih tinggi dibanding hutan daratan, sekaligus melindungi permukiman pesisir dari gelombang badai dan kenaikan muka air laut.
Momentum pemulihannya sedang berjalan. Pada peringatan tahun ini, Kementerian Lingkungan Hidup bersama masyarakat dan lembaga lain menanam lebih dari satu juta bibit mangrove serentak di 162 titik yang tersebar di 37 provinsi.
Hari Mangrove Sedunia mengiringi agenda ESG
Angka-angka itu menjelaskan mengapa mangrove menjadi salah satu isu paling menonjol dalam agenda ESG korporasi Indonesia. Dampaknya terukur, lokasinya jelas, dan hasilnya dapat diverifikasi bertahun-tahun setelah penanaman.
Dalam kerangka Sustainability Development Goals, satu inisiatif penanaman menyentuh beberapa tujuan global sekaligus: Climate Action (SDG 13) melalui serapan karbon, Life on Land (SDG 15) melalui pemulihan biodiversitas pesisir, dan Partnerships for the Goals (SDG 17) melalui kolaborasi lintas sektor.
Namun ada satu tujuan yang jarang ikut disebut dalam percakapan tentang mangrove — dan justru di situlah letak pekerjaan kami.
Huruf S yang sering terlewat
Decent Work and Economic Growth (SDG 8) tidak berbicara tentang pohon sama sekali. Ia berbicara tentang pekerjaan yang layak, remunerasi yang adil, dan hak karyawan yang diakui dalam jangka panjang.
Di sinilah imbalan kerja menjadi relevan. Kewajiban imbalan pasca kerja yang dihitung secara kredibel, diakui secara jujur, dan diungkapkan secara transparan dalam laporan keuangan adalah bukti paling terukur dari dimensi Social dalam ESG. Ia sudah diaudit, sudah punya standar — PSAK 219 — dan sudah tercatat di neraca. Berbeda dengan banyak indikator sosial lain yang bersifat naratif, angka ini tidak bisa dipoles.
Ironisnya, dimensi Environmental kerap mendapat porsi halaman jauh lebih besar dalam laporan keberlanjutan ketimbang dimensi Social yang datanya justru sudah tersedia.
Menghitung hari ini, menumbuhkan esok hari
Bagi kami, keduanya satu tanggung jawab yang sama. Aktuaria adalah disiplin tentang waktu yang panjang — tentang janji yang harus ditepati bertahun-tahun dari sekarang. Pohon menyimpan janji serupa: tumbuh perlahan, mengikat karbon, menyediakan naungan bagi generasi berikutnya.
Dari kesamaan itulah komitmen kami berjalan: sebuah benih pohon menyertai setiap laporan valuasi yang selesai, dan tahun ini seribu bibit mangrove ditanam bersama komunitas pesisir.
Langkah ini tidak kami tempuh sendirian. Setiap perusahaan klien yang menghitung kewajiban imbalan kerjanya secara wajar dan mengungkapkannya secara terbuka sesungguhnya sedang mengerjakan bagiannya dalam SDG 8, dan setiap benih yang mereka terima bersama laporan menjadi simpul berikutnya dalam rantai yang sama. Kami tidak mengklaim tujuan itu sudah tercapai. Kami sedang berproses ke arah sana — bersama perusahaan-perusahaan yang mempercayakan perhitungannya kepada kami.
Memperingati Hari Mangrove Sedunia, perjalanan ESG kami tetap berpegang pada satu prinsip — dan perusahaan yang menghitung serta mengungkapkan imbalan kerjanya secara transparan sebenarnya sudah menempuh bagian awalnya.
Selengkapnya: Komitmen ESG KKA Nirmala · Jurnal CSR · Layanan PSAK 219
